March 14, 2013

Wrong Expectation


Enam tahun lalu saya ingin sekali menjadi anak SMA. Seorang gadis dengan rok abu-abu dan bisa bebas ngelakuin segalanya. Waktu itu saya masih dalam balutan seragam putih merah. Dan mimpi saya saat itu adalah menjadi anak SMA seperti di televisi.

Dua tahun lalu, saya nyaris menyentuh bagian dari hidup saya yang paling saya tunggu dari SD. Yaitu menjadi anak SMA. Saya diterima di salah satu SMA di kota saya. Ekspetasi saya waktu itu masih sama seperti ekspetasi enam tahun silam, SMA adalah era kehidupan paling menyenangkan seumur hidup.

Dua tahun saya menjalani kehidupan sebagai anak SMA. Bagaimana perasaan saya? Tentu saja ada sebersit rasa kebebasan dan rasa 'akhirnya-saya-jadi-anak-SMA-seperti-di-televisi'. Tapi perasaan itu hanya sekian persen bahkan tak menyentuh satu persen pun dari apa yang saya rasakan saat ini. Detik ini.

Saya kira omongan orang-orang tentang betapa menyenangkannya dunia SMA adalah benar. Saya kira saya bakal menemukan dunia FTV dalam masa SMA saya. Mungkin saya termasuk korban FTV norak, tapi bodohnya saya percaya-percaya saja dengan para sutradara yang memaparkan kehidupan 'palsu' SMA di televisi. 

Nyatanya detik ini, saya sedang meratapi masa SMA saya yang monoton dan penuh keluh akan nilai-nilai akademis. 

Lupakan sejenak tentang pertemanan, love-life, dan apapun yang menyenangkan dari masa SMA. Keadaan saya saat ini justru sebaliknya. Saya tertekan karena masa depan, saya terus menerus memikirkan beban untuk bisa mengikuti jalur undangan perguruan tinggi, bahkan untuk ulangan besok pun saya amat-sangat tertekan. 

Orang bilang nikmati saja masa-masa SMA karena itulah masa dimana kita bisa menjadi anak nakal  sebelum kita dibebani tanggung jawab sesungguhnya beberapa tahun kemudian. Tapi saya sulit untuk merasakan definisi umum masa SMA tersebut. Karena faktanya, saya stuck menghadapi nilai-nilai, ulangan, tugas, semester pendek bahkan saya bingung menghadapi makanan di kantin yang mahal, haha.

Saya kemudian berpikir ulang, saya ingin menjadi anak SMA yang tidak mainstream. Saya kapok mengkhayal tinggi-tinggi tentang anak SMA di televisi. Saya ingin menjadi anak SMA yang benar-benar dewasa untuk menyiapkan masa depan saya sendiri. Saya ingin membuat definisi SMA sesuai diri saya. Entah dengan cara apa, tapi saya punya pemikiran sendiri tentang masa SMA saya. Meski terkesan kuno dan nggak gaul, toh ini kehidupan SMA saya. 

Teman-teman saya bilang, buat apa tertekan karena masa depan, toh kita masih SMA, masih kelas dua pula. Tapi justru karena kita masih kelas dua inilah, kita perlu mempersiapkan segalanya sejak awal. Saya tahu saya masih belum sepintar yang lain maupun serajin yang lain. Tapi saya tetap berusaha, setidaknya ada harapan-harapan kecil saya yang mendorong untuk membentuk karakter SMA saya sendiri.

Saat ini saya sendiri juga sudah punya passion, meski saya sendiri terkadang tidak yakin karena saya belum terlalu mumpuni untuk passion tersebut. Tapi bukankah passion adalah hal yang kita kerjakan terus-menerus sekalipun gagal? Dan, yap! Saya mencoba melakukannya saat ini. 

Saya mulai menulis mimpi-mimpi saya di berlembar-lembar kertas. Saya mulai merangkai skenario masa depan saya. Sekalipun saya hanya bisa berencana dan tetap Tuhan yang memutuskan, saya akan tetap berpegang pada skenario masa depan saya. 

Skenario tidak akan berjalan baik tanpa properti bukan? Dan mulai sekarang saya berjanji untuk membuat  properti demi mewujudkan skenario impian saya. Dan goal saya, just see 3 years later! 

have a nice day!
-hana-