Jadi gini ceritanya:
A: "Mending bahasa Inggris nya tuh yang dikembangin"
B: "Iya, ini juga belajar bahasa Inggris kok."
A: "Daripada jurnalis, apa itu cuma wartawan."
Saya langsung berasa diejekin puluhan orang di depan muka. Keselnya luar biasa.
Jadi gini rasanya kalo passion kita diejekin sama orang lain. Jadi mulai sekarang saya harus buktiin saya ngga main-main sama keinginan saya.
"how come you mock my passion? My fuckin passion i've been on my way to reach it? Then I'll prove i'm master in it, i'm not amateur anymore, i'm gonna make deal with you that journalist isn't that easy thingy you can laugh of it like it's fuckin useless for my whole entire life"-130526
May 27, 2013
May 22, 2013
Still on the Way dan... ga nyampe nyampe
Saya dulu ngaku-ngaku hal ini adalah passion saya. Sampe saya yakin, saya ga bisa apa-apa kecuali passion saya ini.
Tapi ternyata yang saya omongin cuman bullshit, saya ga ngelakuin apa-apa.
Seharusnya, passion itu tetap kita jalanin dan ga pernah bosen.
Seharusnya.
May 09, 2013
Just...beautiful
To be quite honest, this is the most beautiful I've ever seen
They're priceless, precious, and timeless
And I'm crying, knowing there's a gap between us now
May 03, 2013
May 01, 2013
Complicated
Susah karena orang macem saya sukanya mikir dan mempersulit masalah dalam kepala. Walaupun keliatannya saya cuek-cuek aja, tapi jujur saya bingung setengah mati. Saya berasa serba salah, awkward, dan bingung harus gimana.
Tapi saya menikmati diri dengan kebiasaan saya untuk mempersulit masalah. Karena mempersulit masalah menurut saya adalah menciptakan pertentangan dalam kepala saya sampai saya nemu akar permasalahannya. Karena dengan kebiasaan ini, saya bisa ngeliat masalah dari banyak sudut pandang. Semacem otak saya kerjanya flasback, review, trus saya interpretasiin ke diri saya sendiri. Dengan kebiasaan ini saya ngerti, human are being human. Mau gimanapun sifat mereka, pasti mereka punya kesamaan.
Apapun yang saya lakukan dan mereka lakukan, selalu saya putar-putar sampai ketemu titik permasalahannya. Tapi kelemahan saya adalah, saya terlalu perasa untuk bisa ngungkapin isi otak saya. Rumit. Jadi saya cuman diem dan menonton permasalahan tanpa berminat kasih solusi. Karena tbh saya takut resiko.
Tapi saya menikmati diri dengan kebiasaan saya untuk mempersulit masalah. Karena mempersulit masalah menurut saya adalah menciptakan pertentangan dalam kepala saya sampai saya nemu akar permasalahannya. Karena dengan kebiasaan ini, saya bisa ngeliat masalah dari banyak sudut pandang. Semacem otak saya kerjanya flasback, review, trus saya interpretasiin ke diri saya sendiri. Dengan kebiasaan ini saya ngerti, human are being human. Mau gimanapun sifat mereka, pasti mereka punya kesamaan.
Apapun yang saya lakukan dan mereka lakukan, selalu saya putar-putar sampai ketemu titik permasalahannya. Tapi kelemahan saya adalah, saya terlalu perasa untuk bisa ngungkapin isi otak saya. Rumit. Jadi saya cuman diem dan menonton permasalahan tanpa berminat kasih solusi. Karena tbh saya takut resiko.
Subscribe to:
Posts (Atom)


