March 15, 2013

What I Learn Today


Entah bagaimana bisa saat ulangan biologi tadi saya kepikiran tentang pelajaran hidup. Saya ingin cepat-cepat pulang dan menuliskan isi otak saya saat itu. And here we are.

Saya punya seorang teman, untuk ukuran teman SMA, dia cukup cerdas untuk saya ajak berbagi berbicara tentang hidup. Kadangkala kami berbincang mengenai topik yang saya sendiri tidak menyangka kami bisa membicarakannya. Saya suka dia karena hidupnya filosofis dan ia punya keteguhan mantap pada prinsip hidupnya.

Satu kalimat yang saya sering dengar darinya adalah, "aku pengen pulang, bukan pulang ke rumah, tapi ke 'atas'". Saya selalu menegurnya kalau ia sudah berbicara demikian. Lalu ia akan melanjutkan, "aku udah capek sama hidup. Kalau bunuh diri nggak dosa, aku pengin ngelakuin." Saya tetap menegurnya karena bisa-bisanya ia berbicara demikian. Tapi sedikit banyak saya menyetujuinya, mungkin akan ada lebih banyak orang yang bunuh diri kalau saja hal itu tidak dilarang. Dan salah satu kalimatnya yang menohok adalah, "kalau aku boleh nggak dilahirin, aku pengen nggak usah lahir ke dunia."

Saya pernah, suatu ketika, dalam keadaan terbawah saya, berpikir bagaimana kalau mati saja? Bukankah enak hidup dalam kematian karena kita hanya memilih mau di surga atau neraka? Daripada menghadapi masalah duniawi yang entah kapan berakhir? Saya pikir, kenapa orang mati-matian mempertahankan hidup mereka kalau nyatanya masalah duniawi sudah merenggut kebahagiaan mereka?

Dalam keadaan terbawah pun, saya masih memikirkan hal demikian. Lalu saya mencoba menelisik emosi saya, membawanya untuk kembali ke titik normal, dan menghempas segala amarah saya waktu itu. Saya menarik nafas dan tertawa kecil. Bagaimana mungkin saya berpikir tentang kematian sementara banyak hal-hal indah di dunia ini yang belum saya lihat?

Orang-orang yang ingin segera nyawanya dicabut mungkin hanya melihat dunia dari sisinya saja. Sisinya yang selalu gelap, suram, dan penuh akan ketidakbahagiaan. Sementara orang-orang yang bahkan nyaris kehilangan nyawa tapi tetap yakin bahwa suatu saat ia akan kembali hidup, pasti adalah orang-orang hebat yang memimpikan melihat keindahan dunia dari sisi mana saja dari seluruh sudut dunia. Mereka yang mempertahankan ruh pasti yakin Tuhan memiliki rencana yang penuh akan kebahagiaan padanya, sekalipun ia harus menunggu bertahun-tahun.

Kenapa kita harus menyesali hidup? Kenapa kita harus memprotes hidup kita yang sudah digariskan? Masing-masing dari kita sudah diberi satu garis hidup. Tugas kita selama hidup di dunia adalah menghias setiap inci dari garis tersebut agar terlihat indah dan menyenangkan, bukannya mencoret-coret garis itu sehingga terlihat jelek dan tidak menarik lagi.

Life is beautiful no matter how hard it is. Mau kita menghadapi banyak masalah, tataplah hidup dari sudut lain. Ambil hikmah dari setiap masalah yang kalian hadapi. Ada milyaran hal-hal indah yang masih tersembunyi dari penglihatan kita karena kita masih stuck di dalam keluhan dan ketidaksyukuran atas hidup.

Lagipula, Tuhan menciptakan kita karena kita memang pantas ada di dunia. Siapa tahu kita bisa jadi salah satu 'keindahan' bagi orang lain. Setiap saya berada di bawah, saya selalu merasa bahwa saya berguna bagi orang lain. Saya harus bersyukur karena saya telah diciptakan dan orang-orang perlu bersyukur karena saya telah diciptakan untuk mereka. Dengan begitu, tidak ada lagi useless life karena saya selalu yakin, betapapun banyak kekurangan saya, pasti ada saat-saat dimana saya bisa membahagiakan orang lain.

Ketika kalian ngerasa di bawah dan punya banyak kekurangan, inget-inget aja kalau kalian masih punya orangtua, teman, pacar, bahkan orang-orang yang kita anggap nggak penting. Percaya deh, kita pantas berada di dunia ini karena Tuhan menggariskannya demikian.

Kalau Tuhan sudah membuatkan kita garis kehidupan, kenapa nggak coba kita hias? Hidup kita itu cantik, terutama kalau kita menghadapi segalanya dengan penuh rasa syukur.

have a nice day!
-hana-